Latest Post
Showing posts with label My Note. Show all posts
Showing posts with label My Note. Show all posts
8:44 PM
Pasar Santa : Hangout, Kuliner dan Kekinian di Jakarta
Written By test on Tuesday, November 3, 2015 | 8:44 PM
Malam minggu kemarin 31 Oktober 2015, gw ma bini jalan-jalan ke JCC, tujuan awal sih lihat Jakarta Auto Show 2015 yang hari itu kebetulan berbarengan dengan Indocomtech 2015. Sebenarnya banyak acara di sekitaran JCC saat itu, ada pentas seni dan panggung gitu, serta beberapa acara lainnya yang gw ga gitu perhatiin. Puas tanya-tanya promo di JAS dan belanja aksesoris di Indocomtech 2015, selesai sholat maghrib di JCC kita jalan-jalan sebentar di sekitaran pameran Indocomtech sembari menuju pintu keluar. Jam 7 teng jalan dari JCC menuju ke tempat yang katanya salah satu tempat nongkrong plus kuliner yang sempat trend dan kekinian di Jakarta dan kabarnya seiring waktu sudah mulai meredup akibat kompleksitas permasalahan yang ada, yaitu Pasar Santa!
Lokasi Pasar Santa masih berada disekitaran blok M, kalau dari arah Sudirman masuk patung pemuda arah blok M, lampu merah pertama belok kiri. Melewati Jl. Trunojoyo Mabes Polri terus sampai Jl. Wolter Monginsidi, lalu ambil kanan sampai ketemu cafe atau restauran di kanan-kiri, lalu ketemu pertigaan ambil kanan menuju Pasar tersebut, kalau ribet tinggal nyalain aplikasi maps di Android atau Iphone kamu, ketik koordinat berikut -6.239467, 106.812048, insya Allah nyampe :). Area
memang berada di gedung Pasar Santa, jika malam berubah
menjadi tempat makan dengan aneka kuliner yang lucu juga untuk dicobain.
Saya pribadi prefer ke Pasar Santa untuk jajan atau mencoba makanan kecil, bukan untuk makan
besar, walaupun pilihan makan besar juga ada.
Kami mengambil lokasi tempat kuliner yang ada di dalam pasar santa, naik ke lantai 2 kita langsung disambut dengan outlet-outlet kuliner yang membuat rasa ingin mencobanya semakin besar, berikut adalah beberapa makanan yang kita coba malam itu di Pasar Santa :
1. D.O.G
Menyediakan hotdog unik berwarna hitam, berisikan daging beef dan sosis, serta mayonaise dan saos. Harga untuk yang single Rp. 30k, double Rp. 35k dan triple Rp. 45k dengan tambahan extra cream Rp. 5k saja. Soal rasa, cukup enak di lidah kita, saya pribadi butuh extra saos agar lebih menikmati hotdog ini, saos sachet tambahan disediakan di konter DOG. Kalau perbadingan value to taste, gw rasa masih sedikit over rate, opini pribadi sih :).
2. Gyutown
Hadap-hadapan dengan DOG ada japanese food Guytown, menjajakan makanan khas Jepang. soal rasa soso dengan makanan sejenis.
3. Beyond Cendol Bar
Lokasi bersebelahan dengan Gyutown ada Beyond Cendol Bar, kita langsung cobain cendol durian dengan harga Rp. 20k yang menurut selera pribadi recomended banget, yang doyan cendol wajib cobain dan ada banyak pilihan yang kita yakin semuanya enak, next time ada waktu ke sini lagi, kita bakal cobain varian lainnya.
4. Ki.Cchin
Restoran Tepanyaki di tengah pasar memang bikin penasaran untuk dicoba, walaupun ciri khas dari restoran ini yang biasanya ada di mall-mall Jakarta jadi hilang, kita tidak dapat duduk di depan chefnya yang sedang memasak di depan kita sambil sesekali menunjukan aksi flamfire dan skill chefnya dan langsung dihidangkan dihadapan kita. Dengan terbatasnya tempat karena hanya berbentuk outlet, tentu restoran tepanyaki ini tidak bisa mengakomodir hal tersebut. Di sini kita pesan Mixed Teriyaki plus nasi dengan harga Rp.33K. Soal rasa, sama saja dengan restoran tepanyaki lainnya, kita biasa makan yang di Ambassador, moreless hampir sama.
Yup, that's all the foods yang kita coba di Pasar Santa di malam minggu kemarin, masih banyak lagi makanan dan kudapan enak lain yang masih belum kita coba dan kalian juga wajib cobain. Walaupun isu Pasar Santa mulai meredup akibatnya beberapa tenant atau enterpreneur yang hengkang dari tempat tersebut, entah karena proyek di akses utama jalan tendean yang membuat kemacetan parah sehingga pengaruh kepada anemo orang untuk kesini, kenaikan harga sewa yang kabarnya sampai 10x lipat atau ada masalah lainnya, entahlah, tapi selama masih buka gak ada salahnya nyobain kuliner lainnya, hitung-hitung mendukung tenant yang ada untuk survive :). Next time kesini lagi gw akan coba jajanan lain dan update blognya. c ya, yhw.
12:00 AM
Letter "u" is not always sound like "u" in put, we will find different sound like :
Source : Anglo-link.com
English Listening - How to Understand Native Speakers
Written By test on Tuesday, October 13, 2015 | 12:00 AM
Hi there, welcome to my english practice. Here I like to share you, 3 Keys to better listening comprehension of native speaker :
I. To understand what makes native speaker hard to understand
There are 2 main reason of these :
1. The great of numbers vowels and dipthongs in English
Some of them very similiar each other. There are many word where consonant are exactly the same and by changing the vowels sound, the meaning changes. When this vowels sound are very smiliar, and especially if one or the other doesn't exist in our own language, it can make it, quite of challenge to understand a native speaker. For example :
Minimal Pairs : same consonant different vowel
Boat - bought, mad - mud, hurt - heart, man - main, than - then, bit - bet, live - leave.
So notice, the only different is the vowels or the dipthongs and they can be very similiar. in one senteces it is not easy to tell a part.
2. The way native speaker shorten and link sound a sentece
The area 2 speech pattern in native speakers :
2.1. Speech pattern I : contracted verbs and negative
Example : I'm, He/She's, They'll. We've, Won't, Can't
Note : Native speakers always use this pattern when they speak, except when they want to stress the point, that is why there is different between tone and meaning between this example.
Example :
"Ok, I'll do it" will be different stressing with "Ok, I will do it"
When we uses contracted form there is no strees and particular emotion.
When we use default form, there is determination
Note : to practice understand kinds contracted verbs, try to practice for yourself, by listening and pronouncation, it will help us to understand when native speaker use it in conversation. Remember, not to use contraction form in formal writing, when we writing a letter, report, etc.
2.2. Speech pattern II : Weak forms
Examples : I can ski ---> I kn ski, Here's my book --> Here's ma book, It's for you --> It's fa you
We don't need use these form when we speak. however, we do need to aware and anticipate the when listening to native speaker.
2.3. Speech pattern III : phonetic links
Phonetic link is words vowels is link to previous one and this make it hard to listen clearly
He works as an engineer --> he work sazanen gineer
She is interested in it --> She(y)isinterestedinit
They went to an amazing place --> they wentto(w)anamazing place
That 3 speech pattern that we sould familiar to increase our listening skill whe we have a chat with native speakers, the best way to upgrade your skill in it, is practice more in audio file with transcript. First, listening to the audio file which is contain conversation or dialogue. second one, write what you hear in conversation or dialogue, the last, compare what you write with file transcript.
II. Improve your own pronounciation
Do not improve your pronouncation by reading, yo will not able to understand several words if you learn by reading. there are 2 common traps learning pronounciation by reading :
1. Believing that 2 word with same spelling = same sound
Examples :
Letter "ea" is not always sound like "i" in jeans (jins), we will find different sound with this "ea"
Great, Hear, Learn, Instead
Letter "u" is not always sound like "u" in put, we will find different sound like :
Judge, Furios
Letter U many time sound like "U" some tine "A" and occasionally "YU"
2. Word stress
2.1. Which syllable is stressed :
DEvelopment -- deVElopment -- deveLOPment -- developMENT
the coreect one is number 2 : deVElopment
2.2. You migh expect these 2 word to be prounounced similiarity
proPOSE -- PURpose
Conclusion : you have able guessing how the words are pronoun, alwasy check the pronounciation of the words since you learning, others ask someone or use talking dictionary. Do work with our pronouncation is the key to improve our skill to understand when native speaker use it.
III. Learn primarily with your ears rather than your eyes
"What you see is not what the say" therefore, the best way in learn new word and its expression is by first hearing them, then saying and writing them. So, This is the final hint in how to use your ears instead of your eyes :
1. Listen to audio book rather than read the printed version
2. Listen to the radio and watch movie in english as much as possible with english subtitile, subtitile can make you easier to comfirmation what you hear.
3. If you're using a course book, work more with accompanying cd rathe than the book itself
4. If you are using a word you have learnt by reading and have never heard it before, make sure you memorize it (sometime make some note of vocabulary) and check the pronounciation.
Thanks.
Source : Anglo-link.com
Labels:
My Note
10:49 PM
Self Artificial Urgency
Written By test on Monday, September 28, 2015 | 10:49 PM
Artificial Urgency adalah istilah yang digunakan untuk membangun, membuat, menciptakan suasana urgency, terdesak atau kepepet kepada diri kita sebelum suasana urgency/kepepet yang sesungguhnya datang. Hal ini didasarkan pada bahwa tidak ada satupun manusia yang menginginkan keadaan kepepet yang sesungguhnya dalam hidupnya. Di dalam teori Jaya Setiabudi (penulis The Power of Kepepet) bahwa menciptakan artificial urgency itu dengan cara-cara yang cukup signifikan (saya sulit mencari padanan kata "ekstrem"), hal ini dalam kaitan orang yang ingin menjadi pengusaha. Tujuannya untuk mendapatkan ENERGI dari reaksi manusia pada umumnya bila dihadapkan pada keadaaan terdesak/kepepet. Jadi, artificial urgency yang dilakukan menurut Jaya Setiabudi adalah dengan keluar dari comfort zone kita atau dalam bahasa yang lebih sering disampaikan beliau adalah "bakar kapal", contohnya : yang pegawai resign, yang punya rumah dijual, yang sedang nyicil rumah dioper kredit, punya mobil juga jual, sehingga hasilnya bisa untuk modal memulai usaha. Saya bicara mengenai hal ini karena memang menyaksikan sendiri seorang teman yang berguru bisnis kepada Jaya Setiabudi menciptakan kondisi terdesak/kepepetnya sendiri seperti yang saya sampaikan di atas di saat dia belum memulai usaha ataupun kondisi paling maksimal disaat usaha tersebut baru saja dirintis, tujuan utamanya tentu saja untuk mendapatkan reaksi balik dari kondisi tersebut. Bagi beberapa kalangan termasuk saya, artificial urgency model ini termasuk cukup ekstrem.
Sebagian kalangan yang konservatif berpendapat perubahan dari pegawai menjadi pengusaha tentu bisa dilakukan dengan cara yang lebih "halus", hal ini dilakukan dengan pertimbangan - pertimbangan bahwasanya memulai usaha dari nol itu kebanyakan tidak langsung sukses, mungkin mudah dari sisi teorinya tapi tidak mudah dalam hal pelaksanaan. Usaha yang sudah sangat baik kalkulasinya, lokasi usaha juga sudah sangat strategis, produk dan harga bersaing, yang pada intinya konsep usaha di atas kertas sudah sangat bagus dan seharusnya bisa langsung sukses, akan tetapi banyak dari pelaku bisnis menemui keadaan yang berbeda pada saat menjalaninya. Faktor Keberuntungan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja, sedangkan hal ini sudah diluar kendali kita sebagai manusia. Kita tidak bisa secara pasti menciptakan atau mendatangkan keberuntungan. Kita bisa lihat, gaya hidup dari saudara kita dari etnis Tionghua, mereka sangat menjaga ritual dan kebudayaan mereka terutama yang berkaitan dengan keberuntungan, baik itu dalam hal penomoran, lokasi rumah, lokasi usaha, tata letak rumah dan seterusnya atau kita kenal dengan Feng Shui.
Artificial urgency yang akan saya bahas kali ini adalah sedikit lebih khusus kepada diri sendiri, yaitu bagaimana kita menciptakan artificial urgency kita sebelum urgency yang lebih nyata itu datang pada kehidupan kita. Sebelumnya apa itu urgency yang nyata? Berikut beberapa contoh kondisinya :
1. saat kita terdesak butuh biaya untuk pengobatan diri kita atau keluarga kita yang sakit
2. saat kita terdesak dengan kondisi sebagai pegawai yang baru kena PHK
3. saat kita terdesak dimana usaha kita sudah menuju ke titik bangkrut
4. saat kita terdesak butuh biaya membayar cicilan rumah yang sudah tenggat waktu setiap bulannya
5. saat kita terdesak dengan pertanyaan "kapan menikah?" dst..dst..
Dengan contoh kondisi di atas sudah pasti tidak satupun manusia menginginkan kondisi di atas, padahal kondisi-kondisi tersebut sangat mungkin bisa terjadi kepada kita dimana saja dan kapan saja. Pada saat kondisi ini terjadi, maka motivasi dan dorongan dari diri kita akan menuju ke titik maksimal dan kita akan mengerahkan segala energi baik pikiran, tenaga dan materi kita untuk bisa keluar dari kondisi tersebut. Poin inilah yang menjadi penting, dimana kita bereaksi sangat efektif dan maksimal dikala mengalami kondisi "kepepet" atau seperti judul bukunya Jaya Setiabudi "The Power of Kepepet". Tentu kita tidak perlu menunggu kondisi terdesak tersebut hanya untuk mendapatkan motivasi dan energi yang maksimal. Lalu bagaimana caranya kita mengalami kondisi "kepepet" tanpa harus mengalami kepepet itu sendiri hanya untuk mendapatkan energi dari reaksi terhadap kondisi tersebut?salah satu caranya yaitu dengan menciptakan "self artificial urgency", masing-masing dari kita tentu memiliki artificial urgency yang berbeda-beda, serta parameter yang beragam, untuk itulah tidak ada aturan mengenai ini, masing-masing dari kita punya mimpi dan target yang berbeda-beda. salah satu cara membuat artificial urgency adalah dengan menetapkan target-target berbasis waktu/umur. seperti contoh :
1. Umur 28 tahun saya sudah harus menikah
2. Umur 35 saya sudah dalam posisi manager dan shuttle di perusahaan yang besar
3. Umur 40 usaha saya sudah bisa berjalan sendiri dan saya bisa fokus mengembangkan usaha yang lain
4. Lebaran tahun depan, saya sudah bisa pulang bawa mobil BMW, dst.
Dengan target-target ini secara langsung kita sudah membuat self artificial urgency kita dan berusaha dengan maksimal bagaimana target tersebut bisa dicapai dan kita tidak berada dalam kondisi artificial urgency yang ada, gunakan segala energi dan waktu yang yang tersisa untuk mengejar target kita. Kalimat "sedang persiapan" adalah cara terbaik dari kita untuk menghindar dalam hal mengejar target-target pribadi kita, "Hal yang paling utama dilakukan dalam memulai itu adalah mulai", Mario Teguh.
Labels:
My Note
5:04 PM
P = Penipu
K1 = Korban ke-1
K2 = Korban ke-2
P membeli barang seharga Rp 150.000 ke K1, otomatis dia meminta reknya K1 untuk melakukan pembayaran sebesar Rp 150.000 itu. Kemudian pd saat yg bersamaan P menjual barang lain ke K2 seharga Rp 650.000. Disini P bukannya ngasih no rekening dia ke K2 malah ngasih no rekening punyanya K1, akhirnya K2 transfer ke K1 yg dikiranya no rekening si P.
Nah kemudian si P telp K1 bilang bahwa dia transfer kelebihan Rp 500.000 (yg harusnya transfer Rp 150.000 malah masuk Rp 650.000). Si K1 setuju untuk mengembalikan Rp 500.000 uang yang dianggapnya kelebihan pembayaran dari si P ke dia.
Tapi si P ngasihnya no.rek REKBER…..!! Dalam artian dia transaksi juga dengan orang lain lewat REKBER.
Penipuan Online Modus Baru
Written By test on Tuesday, May 26, 2015 | 5:04 PM
Semakin maju suatu jaman maka semakin berkembang juga teknik atau modus operandi dari suatu kejahatan. Berikut adalah penjabaran metode penipuan yang tergolong cukup rumit dan canggih sehingga bisa menipu daya korbannya. Intinya adalah, jangan percaya dan
hati-hati kalo ada orang yang mentransfer pembayaran lebih kemudian minta
kelebihan dananya dikembalikan lagi. Berikut kronologis lengkapnya :
P = Penipu
K1 = Korban ke-1
K2 = Korban ke-2
P membeli barang seharga Rp 150.000 ke K1, otomatis dia meminta reknya K1 untuk melakukan pembayaran sebesar Rp 150.000 itu. Kemudian pd saat yg bersamaan P menjual barang lain ke K2 seharga Rp 650.000. Disini P bukannya ngasih no rekening dia ke K2 malah ngasih no rekening punyanya K1, akhirnya K2 transfer ke K1 yg dikiranya no rekening si P.
Nah kemudian si P telp K1 bilang bahwa dia transfer kelebihan Rp 500.000 (yg harusnya transfer Rp 150.000 malah masuk Rp 650.000). Si K1 setuju untuk mengembalikan Rp 500.000 uang yang dianggapnya kelebihan pembayaran dari si P ke dia.
Tapi si P ngasihnya no.rek REKBER…..!! Dalam artian dia transaksi juga dengan orang lain lewat REKBER.
Akhirrnya si K1 transfer ke
Nomor REKBER yang dikiranya Nomor Rekening punya P !!
Jadi disini si P putar uang hasil
penipuannya buat beli barang terus menerus.
Caranya cerdas memang karena sama sekali TIDAK PERLU PUNYA NO.REKENING..!!Pada posisi ini K2 yang membeli barang dari P bingung barangnya tidak datang-datang, sedangkan P transaksi selama ini pake rekening orang lain diputar-putar buat beli-beli barang.
Singkat cerita setelah mencobva untuk mengklarifikasi ke P masalah barangnya yang tidak kunjung datang, maka dilaporinlah ke Bank si P terkait sebagai tindak penipuan, tapi yang dilaporin itu No Rekening punya K1 karena memang dari awal K2 transfer ke no rekening milik K1. Akan tapi K1 tidak tahu apa-apa soal penipuan, karena dia anggap itu uang hasil transaksi dengan P dan kelebihan bayar dan diblokirlah nomor rekening K1 oleh Bank tersebut, karena memang yang dilaporin nomor rekening punya K1
Caranya cerdas memang karena sama sekali TIDAK PERLU PUNYA NO.REKENING..!!Pada posisi ini K2 yang membeli barang dari P bingung barangnya tidak datang-datang, sedangkan P transaksi selama ini pake rekening orang lain diputar-putar buat beli-beli barang.
Singkat cerita setelah mencobva untuk mengklarifikasi ke P masalah barangnya yang tidak kunjung datang, maka dilaporinlah ke Bank si P terkait sebagai tindak penipuan, tapi yang dilaporin itu No Rekening punya K1 karena memang dari awal K2 transfer ke no rekening milik K1. Akan tapi K1 tidak tahu apa-apa soal penipuan, karena dia anggap itu uang hasil transaksi dengan P dan kelebihan bayar dan diblokirlah nomor rekening K1 oleh Bank tersebut, karena memang yang dilaporin nomor rekening punya K1
K1 mencoba menghubungi nomor HP si P
tapi sudah dapat diduga, HP-nya udah gak aktif!
Akhirnya K1 harus ganti Rp.
650.000 ke K2 supaya nomor rekeningnya tidak diblokir. Sedangkan si P lolos begitu saja dengan mendapatkan barang yang dia inginkan seharga 500rb rupiah. apabila K1 mengincar no rekening saat dia mengembalikan kelebihan bayar 500rb maka yang didapat nomor rekening rekber. sedangkan pemilik rekber tahunya nomor rekening K1 (sebagai pembeli) dan nomor rekening Penjual yang di sini dia tidak menjadi korban karena sudah mengirim barang dan berhak akan uangnya sesuai aturan rekber atau mereka boleh berdebat untuk itu apakah penjual terakhir berhak akan uang tersebut tapi yang paling penting P mendapatkan barang yang diinginkannya dari K1 dan dari penjual terakhir tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun dan tanpa meninggalkan identitas apapun kecuali nomor telepon dan alamat pengiriman. Hal yang paling dimungkinkan adalah alamat pengiriman, disinilah harapan terakhir untuk bisa mengejar si pelaku tapi bisa ditebak lokasi pengiriman inipun sudah di acak oleh P dan tentu saja beroperasi di luar pulau yang membuat korban mengurungkan niat untuk menelusuri lebih dalam.
Bagi yang suka belanja online, harus berhati-hati..!
Bagi yang suka belanja online, harus berhati-hati..!
Labels:
My Note,
Technology
1:51 AM
Trans Studio Semarang atau TBRS, pilih mana?
Written By test on Monday, March 9, 2015 | 1:51 AM
Di Semarang kota yang sudah menjadi kota kedua saya ini sedang sedikit bergejolak terkait rencana Pemkot yang akan membangun kawasan bermain indoor terpadu dan modern Trans Studio. Harusnya rencana ini merupakan langkah luar biasa dan suatu kemajuan di kota ini ditengah stagnannya pembangunan pusat hiburan masyarakat, akan tetapi rencana yang bagus ini menjadi masalah ketika lokasi rencana pembangunan trans studio semarang itu berada di area bermain Wonderia dan kabarnya sampai ke area Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).
Titik permasalahannya ada di TBRS, pegiat budaya kota Semarang memprotes keras rencana ini. Mereka menolak TBRS menjadi wahana bermain indoor milik Trans Corp, karena mengancam salah satu habitat seniman dan juga area terbuka hijau dimana di area tersebut terdapat pohon besar yang bersejarah. Menurut pendapat saya, penolakan ini wajar karena menyangkut habitat suatu komunitas tertentu dan solusi paling ideal adalah membangun Trans Studio hanya di areal Wonderia saja, pertanyannya apa lahannya cukup? apa investornya berkenan? Menurut Walikota Semarang, Pak Hendrar Prihadi, dalam klarifikasinya menyatakan wahana indoor itu tidak akan memakan lahan yang ada di areal TBRS. Beliau juga menjelaskan, proses pemerintah kota melakukan persuasi investasi triliyunan ini secara lisan sudah memakan waktu kurang lebih setahun untuk sampai PT. Trans Ritel Property setuju berinvestasi di Semarang. Kesepakatan masih berbentuk komitmen belum sampai ke teknis, masih terbuka ruang untuk public hearing, diskusi dan lain -lain serta perlu diingat ide investasi ini juga merupakan aspirasi masyarakat Semarang yang mengeluhkan minimnya tempat hiburan dan wisata di kota Semarang. (sumber : http://bit.ly/1wSW6Nm)
Reaksi seniman dan sebagian masyarakat kota Semarang di sosmed memang perlu jadi perhatian, perlu dibuka ruang dialog secepat mungkin kepada seniman dan masyarakat agar isu ini tidak meluas kemana-mana. Apalagi isu ini sudah diangkat di sosmed dengan tagar #SaveTBRS, salah dalam menyikapi akan mudah tersebar dan isu-isu seputaran pembangunan Trans Studio Semarang yang masih belum terklarifikasi tersebut sudah terlanjur meluas. Investor tentu saja akan melihat reaksi ini, tidak ada satupun investor yang menginvestasikan dananya apalagi hingga triliyunan hanya untuk mendapat penolakan, yang akan berakibat pada kalkulasi bisnis mereka. Jika ini terjadi, menurut saya masyarakat Semarang akan sangat mengalami kerugian. Trans Studio sukses besar di kota-kota perintisnya (red. Bandung, Makassar) dan sangat berpengaruh pada dunia pariwisata kota tersebut.
Kota Semarang sendiri merupakan area yang strategis, masuk pada jalur pantura bagi arus lalu lintas dari arah barat menuju timur. Setiap orang yang melakukan perjalanan dari Jakarta menuju ke jawa timur pasti akan melewati kota ini, akan tetapi apakah ada daya tarik bagi para pemudik untuk mampir di kota ini?atau sebagian besar dari mereka cenderung masuk dan keluar tol serta melewati kesempatan untuk mampir di pusat kota Semarang seperti yang selama ini terjadi? ini terjadi karena memang daya tarik yang kurang dari kota ini. Dibandingkan dengan provinsi di jawa lainnya serta kota-kota di Jawa Tengah yang ada di sekitarnya, Semarang jelas ketinggalan. Bandingkan saja dengan Solo dan Jogja, yang memiliki tingkat kedatangan wisatawan yang jauh meninggalkan Semarang, ini terjadi karena kedua kota ini memiliki kerajaan/keraton dan memilih konsep yaitu sebagai kota sejarah dan budaya. Sedangkan Semarang sendiri sulit untuk menjadi kota budaya karena minimnya situs-situs bersejarah tanah air yang bisa memikat banyak wisatawan lokal maupun mancanegara. Sebenarnya sektor budaya dan sejarah cukup potensial disini, karena selain bangunan Lawang Sewu dan taman Sam Po Kong, Semarang punya komplek kota tua peninggalan Belanda yang lumayan fenomenal dan eksotis mengingat luasan dan berkumpulnya gedung - gedung tua tersebut dalam satu kawasan. Pada masanya Semarang terkenal dengan sebutan "Little Netherland" karena kawasan kota lama ini seperti miniatur pusat kota yang ada di negeri Belanda pada saat itu, akan tetapi semakin tingginya air rob, mahalnya investasi untuk "mengamankan" area ini dan minimnya fokus pemerintah menyebabkan area ini semakin hari justru semakin tenggelam dan tidak terawat. Padahal dalam imajinasi saya, saya membayangkan salah satu area di kawasan kota lama ini bisa dijadikan pusat kuliner dan area berekspresi seniman lokal seperti sebagai pusat pameran dan pementasan seni dan budaya, dengan dukungan sarana dan prasana yang memadai serta ornamen gedung2 tua dan lighting yang dipercantik, bisa dibayangkan betapa eksotisnya area ini. Akan tetapi kembali lagi investasi yang mahal untuk "mengamankan" area ini mungkin menjadi kendala utama. Dengan segala kondisi ini jika kota ini ingin terus maju dan berkembang, pilihan untuk menjadi kota budaya dan metropolitan tidak bisa dihindari.
Sebut saja Palembang, kota yang di tahuan 2000an awal tidak banyak pilihan dalam hal tempat hiburan, kadang masyarakat kota bingung harus menghabiskan waktu dimana, mall yang besar cuma satu sedangkan tempat hiburan malam semakin gencar, kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Anak muda disana saat itu mulai memandang "sebelah mata" orang yang ke pusat perbelanjaan satu-satunya tersebut, karena semua kelas masyarakat menuju kesana. mulai dari masyarakat biasa sampai yang kelas atas menuju tempat belanja dan hiburan tersebut dan ini dipandang "tidak berkelas" disana. Lambat laun anak muda mulai melirik tempat hiburan alternatif yang anti mainstream, misal tempat cafe remang, bilyard dan hiburan malam. Kondisi ini tentu tidak terlalu ideal bagi perkembangan anak muda disana, kehidupan ngemall dan makan di resto yang ada di mall tentu dipandang lebih "aman" dan "normal" dibandingkan alternatif yang ada. Maka dari itu, pemerintah setempat mau tidak mau harus memajukan kotanya agar peradaban kota tersebut juga ikut terjaga. Kembali ke Semarang, usaha yang dilakukan oleh pemerintah kota dalam hal ini walikota untuk memberikan hiburan lebih bagi masyarakat Semarang patut diapresiasi, solusi mudahnya jangan ganggu TBRS atau kalaupun luasan lahan tidak mencukupi maka cari alternatif lain yang juga cukup representatif. Hubungan pengusaha dengan pemerintah saling membutuhkan, tapi yang perlu diketahui adalah hubungan ini tidak selalu penguasa (pemerintah) yang ada di atas, ada kalanya memang pemerintah yang butuh sehingga harus memfasilitasi syarat-syarat yang dibutuhkan oleh pengusaha. dalam kasus Trans Studio Semarang bisa kita nilai sendiri kalau posisi tawar pihak Trans Corp lebih tinggi, terlihat dari beberapa komentar dari pihak pemerintah Semarang.
Pada akkhirnya saya pribadi sebagai orang luar yang kebetulan merantau, beristri orang semarang dan memiliki rumah di Semarang, sangat berharap berbagai macam investasi hadir di kota ini. Jujur saja selama ini Semarang terlihat kurang menarik bagi orang luar dibandingkan dengan kota-kota utama lainnya di pulau Jawa. Sering sekali keluarga dan teman yang ada di palembang dan Jakarta menanyakan hal, Semarang ada apanya sih? bahkan ada yang menyamakan dengan kotanya gersang ya dan panas? Saya yang bukan orang Semarang asli saja cukup tersenyum kecut mendengarnya. Mereka bicara seperti itu karena memang belum pernah berkunjung ke Semarang dan kurangnya minat untuk memulai berkunjung, Semarang butuh treager lebih agar bisa memikat wisatawan lokal kesana. Menurut saya Semarang kota yang cukup eksotis, perbedaan level antara Semarang atas dan bawah membuat kota ini terlihat "seksi" di malam hari. Susanana kota Semarang bawah di malam hari yang dihadirkan mulai dari cafe mumer sampai dengan restauran berkelas cukup membuat saya berkesan dan nyaman untuk sekedar makan malam dengan keluarga dan kolega. Akan tetapi berkali-kali ganti kepemimpinan, dari saya kuliah sampai dengan sekarang praktis sedikit sekali perkembanganya, saya hanya bandingkan dengan Palembang yang di awal saya kuliah, Palembang tidak ada apa-apanya dibandingkan Semarang, tapi roda perekonimian berputar terutama sejak otonomi daerah diberlakukan, sekarang Semarang yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Palembang. Pembangunan mall besar dan berkelas yang sampai sekarang masih belum berhenti, perumahan elite, apartemen, jalan layang, underpass, pusat olahraga terlengkap standar internasional, bandara yang diperluas dan modern dan lain lain menjadi ukuran dalam melihat kemajuan sebuah kota metropolitan dan kemampuan Palembang menjadi kota metropolitan dengan tetap menjaga kualitas lingkungannya diakui secara nasional (tinyurl.com/l6s2ycg). Jangan anti dengan pembaruan dan pembangunan, pahami iklim investasi di semarang, kalaupun ada protes sampaikan secara langsung ke pemerintah setempat, dahulukan dialog, jangan membuat gerakan-gerakan yang justru akan merugikan masyarakat Semarang itu sendiri. Berani berbeda dan tidak perlu sungkan dengan sepuh-sepuh yang ada, semata-mata untuk kemajuan Semarang.
Perlu diingat saya tidak mendukung Trans membangun wahananya dengan melibas keberadaan TBRS, tapi saya mendukung dengan berbagai alternatif yaitu : pembangunan wahana tidak sampai menggangu area TBRS atau bangun di area lain yang tidak kalah representatif sehingga menjamin investasi investor. Saya mengutip kalimat Sutiyoso dalam sebuah sesi wawancara di salah satu televisi swasta saat dia akan membangun koridor pertama Trans Jakarta yang saat itu luar biasa pro kontranya, beliau berkata "Setiap pembangunan pasti akan ada pihak yang dirugikan dan diantara pihak tersebut yang paling dirugikan adalah masyarakat kecil" Silahkan pemerintah yang berwenang menjalankan amanah mana manfaat yang lebih besar, pro kontra akan selalu ada, selama untuk kepentingan yang lebih besar, maka jangan ragu-ragu untuk menjalankan programnya. yhw
Perlu diingat saya tidak mendukung Trans membangun wahananya dengan melibas keberadaan TBRS, tapi saya mendukung dengan berbagai alternatif yaitu : pembangunan wahana tidak sampai menggangu area TBRS atau bangun di area lain yang tidak kalah representatif sehingga menjamin investasi investor. Saya mengutip kalimat Sutiyoso dalam sebuah sesi wawancara di salah satu televisi swasta saat dia akan membangun koridor pertama Trans Jakarta yang saat itu luar biasa pro kontranya, beliau berkata "Setiap pembangunan pasti akan ada pihak yang dirugikan dan diantara pihak tersebut yang paling dirugikan adalah masyarakat kecil" Silahkan pemerintah yang berwenang menjalankan amanah mana manfaat yang lebih besar, pro kontra akan selalu ada, selama untuk kepentingan yang lebih besar, maka jangan ragu-ragu untuk menjalankan programnya. yhw
Labels:
My Note
2:21 AM
Sebelumnya berikut dokumen persyaratan yang harus dilengkapi :
Pembuatan Paspor di kantor Imigrasi Semarang
Written By Yudi Hewij on Monday, April 2, 2012 | 2:21 AM
Proses pembuatan paspor sebenarnya tidak terlalu sulit, hanya saja memang membutuhkan waktu khusus untuk mengurusnya, mengingat jumlah antrian setiap harinya selalu mencapai angka ratusan. Tapi kali ini memang saya pribadi bertekad untuk mengurus sendiri pembuatan paspor tanpa perantara atau bantuan siapapun (red. calo). Berbekal informasi dari teman mengenai dokumen persyaratan yang harus dibawa, maka sya sudah menyiapkannya terlebih dahulu sehingga menghemat banyak waktu (tidak harus bolak balik). Berikut saya ceritakan kronologi lengkap pembuatan Paspor :
Sebelumnya berikut dokumen persyaratan yang harus dilengkapi :
1. Akta kelahiran/Surat Nikah/Ijasah (copi dan asli)
2. Kartu Keluarga (copi dan asli)
3. KTP (copi dan asli)
4. Paspor lama (untuk yang perpanjangan paspor, copi dan asli)
Hari Pertama
Datang ke kantor imigrasi sekitar pukul 10.00 WIB, datang jam segitu yang menurutku sudah pagi ternyata antrean sudah cukup panjang, sekedar saran kalau memang ingin dapat antrian depan datang lebih pagi, bahkan beberapa saat sebelum kantor imigrasi dibuka. Berhubung baru pertama kali, begitu datang saya langsung ke meja customer service, di sini mba bagian pelayanan cukup baik dan ramah dalam menjelaskan kepada pembuat paspor yang memadati kantor layanan itu. Saya disuruh untuk membeli map di bagian fotocopy (semacam tempat fotocopi terpisah yang sering kita temui di samsat, saat itu posisinya terletak di ruangan sebelah) di map tersebut terdapat beberapa isian biodata. Oh ya jangan lupa sebelum melakukan aktifitas apapun begitu datang langsung ambil nomor antrian elektronik yang ada di bagian depan dari meja customer service, biasanya ada petugas yang membantu, akan tetapi kalau ternyata tidak ada petugas kita bisa ambil nomor sendiri dengan terlebih dahulu memilih proses mana yang sedang/akan kita jalani lalu menekanya di layar monitor, secara otomatis nomor antrian akan keluar. Kembali ke Map, setelah diisi biodata di bagian depan map, begitu juga dengan copian lampiran dokumen di dalamnya, lalu map yang berwana kuning itu kita tumpuk di loket 2 atau 3 (sesuai update terkini). setelah ditumpuk kita tinggal menunggu giliran sesuai nomor yang tertera di karcis antrian untuk verifikasi data. setelah tiba nomor antrian kita akan dipanggil dan ditanyakan beberapa hal mengenai data pribadi, lalu kita menunjukan dokumen aslinya, setelah itu disertai tanda terima untuk melanjutkan pembayaran beberapa hari (3-4 hari) kemudian dan nomor urut yang kita pegang tadi masih berlaku untuk proses pembayaran.
Hari Kedua (selang 3-4 hari dari hari pertama)
Di hari kedua ini saya langsung menuju ke kantor layanan dan melihat di papan elektronik nomor antrian untuk pembayaran (loket 4), ternyata untuk pembayaran berlangsung cepat, dari sana saya kena biaya resmi sebesar Rp. 255.000,-. Setelah membayar kita langsung antre untuk menunggu panggilan foto dan wawancara. Antrean foto dan wawancara cukup lama, setelah hari menjelang sore barulah akhirnya dipanggil untuk melakukan foto dan wawancara Di sinilah faktor kelelahan memuncak di saat petugas foto dari pegawai imigrasi (nama di tag Adi) salah meletakkan tumpukan dokumen saya di bagian wawancara, sehingga pewawancara tidak mendapat dokumen saya. Pantas saja saya yang sudah menumpuk berkas dari pagi tidak kunjung dipanggil sedangkan yang baru datang setelah saya sudah pada dipanggil, bahkan saat datang rombongan antrean yang baru selesai fotopun dan sampai mereka selesai wawancara satu persatu nama saya juga belum dipanggil. Tadinya saya hanya ingin jadi warga negara yang baik, membuat sesuai prosedur (tidak pakai calo dan menyuap) dan juga tertib antrean, akan tetapi dikarenakan kesabaran saya mulai tipis akhirnya saya menanyakan kembali ke pegawai foto,"Pak, dokumen saya tadi sudah ditumpuk apa belum ko dari tadi saya tidak dipanggil-panggil untuk wawancara?", lalu sang pegawai yang berperawakan tambun ini menjawab dengan sekedarnya, "tunggu saja dulu Pak, dokumen sudah ditumpuk". Saya paling anti dibilang tidak tertib atau tidak sabar antre, maka dari itu saya coba untuk menunggu beberapa saat lalu langsung menanyakan ke pewawancara mengenai keberadaan dokumen saya. Ternyata benar dugaan saya, ditumpukan dokumen petugas wawancara tidak ada dokumen saya. Dengan muka sedikit kesal akibat kecapekan dan waktu yang sudah cukup banyak dihabiskan, lalu saya menyakan kembali ke petugas foto, "tolong dicek dokumen saya dimana? kata petugas wawancara di dalam tidak ada!", lalu petugas itu tanpa menjawab memeriksa biodata saya lalu berdiri dan berjalan menuju ke bagian wawancara, sembari berujar "harusnya sudah ada di sini (red. ruang wawancara). setelah petugas ini masuk ke dalam, luar biasa terkejutnya, ternyata dokumen tidak ditumpuk di tempat semestinya dan dokumen saya sendiri tanpa ada teman dokumen lainnya. Sembari geleng-geleng kepala hanya bisa mengucap "Astaghfirullahhaladzim...", petugas wawancara langsung mengambil dokumen saya dan langsung dipanggil. sekita 10-15 menit sesi wawancara + tanda tangan dokumen berakhir, lalu kembali ke loket 2 atau 3 tadi untuk menanyakan kapan dokumen kita kira-kira akan selesai. Setelah mendapat jawaban dari petugas yang sedang bertugas di loket tersebut, saya akhirnya bisa pulang dengan sedikit lega, walaupun diselingi kejadian yang tidak begitu mengenakan, tapi secara kesuluruhan lega, karena pembuatan dokumen paspor ini masih sangat bisa untuk dilakukan secara normal dan sesuai prosedur tanpa perantara calo, uang akselerasi dan sebagainya.
Hari Ketiga (kira-kira seminggu setelah wawancara)
Dengan bermodalkan kwitansi atau tanda terima (kira-kira berukuran separuhnya kertas A4, kita langsung menuju ke loket 1 untuk menanyakan keberadaan dokumen kita apakah sudah selesai atau belum, perlu dicatat waktu seminggu adalah waktu yang cukup aman buat kita untuk tidak kembali dengan tangan kosong akibat dokumen belum selesai (7 hari). Di loket 1 ini menurut pengalaman pengurusan beberapa hari belakangan ini, sering terlihat 1 pegawai (wanita) dan 1 pegawai freelance yang terlihat dari seragamnya sepertinya anak SMK yang sedang kerja praktek atau magang. Pada hari pengambilan dokumen itu, mulai saya datang sampai saya akhirnya pulang, sang PNSnya tidak terlihat, hanya terlihat siswi SMK saja yang terlihat setengah ngos-ngosan bolak balik loket - kantor untuk pengecekan dokumen apakah sudah selesai atau belum dari beberapa orang yang ingin mengambil paspornya. Sempat saya tanyakan, "Mba, PNSnya mana?" lalu dia menjawab "Ga tau Pak, dari tadi gak ada, padahal khan harusnya yang gini-gini urusan dia, klo dokumenya ternyata missed seperti ini khan saya juga ga tau (sembari menunjukan form pengambilan dok dari salah satu orang yang kebetulan keberadaa dokumennya tidak diketahui)". "Sudahlah Mba sabar aja coba di cek yang ada dulu, yang belum jelas keberadaanya di skip dulu aja, kasian gara-gara 1 yang lain harus nunggu lama", saran saya kepada siswa magang tersebut. Sepertinya saran saya cukup didengar, petugas tersebut bergegas untuk mencoba mencari lagi dokumen paspor yang lain dari tumpukan formulir pengambilan yang sudah dipegang di tanganya satu persatu dan Alhamdulilah untuk waktu yang tidak beberapa lama, akhirnya dokumen paspor saya sudah di tangan. fiuuuhh akhirnya..., KL dan SIngapore, I'm comiiinggg......!!.
Berikut kesimpulan proses dari pengurusan pembuatan paspopr baru di kantor imigrasi Semarang :
- Datanglah ke Customer Service terlebih dahulu untuk menanyakan sekilas mengenai proses pembuatan paspor, hal ini untuk mengantisipasi sekiranya ada update terbaru dalam proses pembuatan paspor, abaikan jika tidak ada petugasnya.
- Ambil nomor antrian (lokasi di depan meja customer service)
- Ambil/beli map dan formulir di tempat koperasi fotocopi yang terletak di ruangan belakang customer service
- Tumpuk Dokumen di Loket 2 atau 3, tunggu panggilan untuk verifikasi data pribadi dan pengecekan
- Kembali lagi setelah beberapa hari (3-4 hari) untuk membayar di loket 4, setelah membayar langsung masuk ke ruang foto dan sidik jari
- Setelah selesai foto dan sidik jari, dokumen kita akan ditumpuk petugas ke dalam ruangan wawancara untuk antri menunggu panggilan.
- Setelah wawancara dan menandatangani form yang diberi petugas maka kita tinggal menunggu sampai paspor kita jadi (estimasi aman sekitar 5 hari kerja)
- Setelah kurang lebih seminggu ambil paspor dengan menunjukan bukti form bayar ke petugas yang ada di loket 1.
- Selesai
So, buat kamu yang kepengen menjalani proses pembuatan paspor ini dengan benar dan tentu saja punya keluangan waktu serta dana yang terbatas, maka memproses sendiri pengajuan pembuatan paspor merupakan solusi yang baik, selain itu kita juga bisa turun andil dalam mengurangi praktek-praktek percaloan yang dilakukan oleh orang luar bekerja sama dengan oknum pegawai imigrasi setempat. Semakin luang waktu kita dalam membuat paspor maka semakin minimal dana yang dikeluarkan, semakin sedikit waktu yang tersedia maka semakin mahal, umumnya karena sudah terdesak kita jadi terpaksa menggunakan jasa calo dengan harga yang fantastis. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba...!.
Labels:
My Note,
Travelling
6:54 PM
Kamis malam yang melelahkan....
Written By Yudi Hewij on Tuesday, November 15, 2011 | 6:54 PM
Hari ini, Kamis 3 November 2011 sama seperti hari lainnya.
Memulai pekerjaan seperti biasa dan teringat kalau hari ini ada janji dengan teman-teman ngopi (Iqbal dan Vera) di tempat tongkrongan favorit kita Starbucks Paragon. tanpa terasa sudah jam 5 sore, kita sudah siap-siap dengan tentengan masing, aku kebetulan nebeng Vera, sedangkan Iqbal kita jemput di perjalanan kantor ke starbuck.
Sesampainya di SB kita memesan kopi favorit masing-masing. Aku dan Iqbal umumnya memilih kopi hangat, sedangkan vera lebih suka yang ice. seperti biasa, acara coffe break kita ini diisi dengan obrolan-obrolan ringan seputar kerjaan, isu terbaru, program terbaru, keluarga dan bahkan gosip-gosip yang sedang marak :). Apapunlah yang penting kita bisa sedikit meluangkan pikiran untuk menikmati relaksasi dari hobi kita meminum kopi.
Harga kopi di SB sebenarnya beragam, pemilik kartu kredit BCA bisa sedikit mendapatkan keuntungan di sini, bisa upgrade size dan untuk type kopi Frapucino bisa buy 1 get 1 free, lumayan khan? :). Harga kopi sendiri mulai dari Rp. 25.000 (ukuran terkecil) sampai dengan Rp. 30rb - Rp. 40rb (all type, all size).
So, buat yang suka ngopi, SB merupakan salah satu tempat recomended untuk menikmati kopi, selain taste, suasana yang nyaman dan cozy tentu menjadi pertimbangan kita. enjoy it !
















